Sekilas Lintas, Koridor Ekonomi Sumatera dalam MP3EI Reviewed by Momizat on . Oleh : H. Kliwon Suyoto. MP3EI merupakan singkatan dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, yang dicanangkan Presiden RI, Susilo Oleh : H. Kliwon Suyoto. MP3EI merupakan singkatan dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, yang dicanangkan Presiden RI, Susilo Rating: 0

Sekilas Lintas, Koridor Ekonomi Sumatera dalam MP3EI

Sekilas Lintas, Koridor Ekonomi Sumatera dalam MP3EI

Oleh : H. Kliwon Suyoto. MP3EI merupakan singkatan dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, yang dicanangkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 26 Mei 2011. Bagi pembaca yang familiar dengan internet, akan lebih mudah mengenali dan memahami, untuk kemudian men osialisasikannya kepada masyarakat dalam skala yang lebih luas. Cukup mengklik tautan berikut ini, keseluruhan progress MP3EI akan terlihat, tentunya harus diikuti dengan membaca dan memahaminya. Berikut tautannya, silahkan double klik: http://www. scribd. com/doc/57180016/Buku-Master-Plan-Percepatan-dan-Perluasan-Pembangunan-Ekonomi-Indonesia-2011 Р2023-MP3EI-Edisi-1.

Dari penjelasan Presiden pada pengantar progress, MP3EI didasari pertimbangan, bahwa pada dasarnya Indonesia memiliki potensi, ketangguhan dan keunggulan, yang terbukti dari selamatnya Indonesia melewati periode resesi ekonomi global. Selain itu, Indonesia oleh kalangan pengamat ekonomi dunia dinilai akan menjadi the emerging economy. Penilaian ini harus dapat membangkitkan rasa percaya diri seluruh masyarakat Indonesia, bahwa bangsa Indonesia perlu melakukan sesuatu, do something yang dispiriti dengan “Not Business As Usual”.

Sesuatu yang harus dilakukan (do something) itu ada tiga, yaitu: “debottlenecking”, percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional dalam kurun waktu 2010 – 2015. Dan MP3EI merupakan kerangka acuan (terms of reference) untuk mewujudkannya. Jika tiga pekerjaan utama itu dapat dilaksanakan, maka pertumbuhan ekonomi semakin tinggi, lapangan kerja semakin luas dan kemiskinan akan makin dapat dikurangi. Pada gilirannya kesejahteraan masyarakat Indonesia juga menjadi lebih baik, bergerak menuju masyarakat yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Visi dan Misi MP3EI

Visi MP3EI diselaraskan dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 17 tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025, yaitu “Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur”. Visi ini juga disebut Visi 2025, yang menetapkan target terukur, yaitu kegiatan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi yang dapat menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025, dengan ukuran: pendapatan per kapita berkisar antara USD 14.250 – USD 15.500 dan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USD 4,0 – 4,5 triliun.¬†

Untuk mewujudkannya target itu diperlukan pertumbuhan ekonomi riil sebesar 6,4 – 7,5 persen pada periode 2011 – 2014, dan sekitar 8,0 – 9,0 persen pada periode 2015 – 2025. Pertumbuhan ekonomi tersebut harus dibarengi pula oleh penurunan inflasi dari sebesar 6,5 persen pada periode 2011 – 2014 menjadi 3,0 persen pada 2025. Kombinasi pertumbuhan dan inflasi mutlak, karena hal ini menjadi cerminan karakteristik sebuah negara yang maju.

Kedua, misi MP3EI sebagai sarana untuk mewujudkan Visi 2025, adalah: (1) Peningkatan nilai tambah dan perluasan rantai nilai proses produksi serta distribusi dari pengelolaan aset dan akses (potensi) SDA, geografis wilayah, dan SDM, melalui penciptaan kegiatan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis di dalam maupun antar-kawasan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi; (2) Mendorong terwujudnya peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran serta integrasi pasar domestik dalam rangka penguatan daya saing dan daya tahan perekonomian nasional; (3) Mendorong penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi, proses, maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan, menuju innovation-driven economy. 

Pertumbuhan tanpa investasi tentu nonsen. Oleh karena itu, investasi MP3EI yang akan dipersiapkan mencapai Rp 4.012 triliun yang disebar ke enam Koridor Ekonomi (KE), masing-masing: KE Sumatera Rp 714 triliun (18 persen); KE Jawa Rp 1.290 triliun (32 persen); KE Kalimantan Rp 945 triliun (24 persen); KE Sulawesi Rp 309 triliun (8 persen); KE Bali РNusa Tenggara Rp 133 triliun (3 persen) dan KE Papua РKepulauan Maluku Rp 622 triliun (15 persen). Sumber dana untuk investasi 51 persen dari swasta; 10 persen pemerintah (APBN); 18 persen BUMN; dan 21 persen Campuran Swasta, Pemerintah dan BUMN. 

Koridor Ekonomi Sumatera

Koridor Sumatrera mengusung tema pembangunan “Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional” terdiri dari 11 Pusat Kegiatan Ekonomi Utama (PKEU) yaitu di Pangkal Pinang; Padang, Bandar Lampung; Bengkulu; Serang; Banda Aceh; Medan; Pekanbaru; Jambi; Palembang dan Tanjungpinang. Fokus kegiatan ekonomi utama pada lima komoditas – Kelapa Sawit, Karet; Batu Bara; Industri Perkapalan dan Besi Baja – serta satu kawasan, yaitu Kawasan Strategis Nasional (KSN), Selat Sunda¬†

Sebagai infrastruktur penghubung antara Koridor Ekonomi Sumatera dan Jawa, pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) diharapkan bermanfaat sebagai sarana yang efisien untuk pengangkutan barang dan jasa antar pulau Sumatera dan pulau Jawa, yang relatif bebas hambatan cuaca dan gelombang. Penyeberangan kapal feri pada Selat Sunda yang semula 2 Р3 jam, belum ditambah dengan waktu tunggu menyeberang, dapat dipersingkat menjadi sekitar 30 menit dengan jalan bebas hambatan sepanjang 28 km. 

Penyeberang juga diberi pilihan, bisa menggunakan kereta api, karena Jembatan Selat Sunda akan dilengkapi dengan jalur rel kereta api. Saat ini, akibat keterbatasan kapal ferry penyeberangan dan hambatan cuaca sudah menimbulkan kerugian besar bagi pengusaha. Selain itu, JSS diharapkan juga dapat menjadi prasarana untuk pemasangan pipa bahan cair dan gas, jaringan kabel dan serat optik, serta Pusat Pembangkit Tenaga Listrik Pasang-Surut Gelombang Laut. 

Beberapa dampak jangkauan logistik akibat dari lintasan Pembangunan Jembatan Selat Sunda terhadap Wilayah di sekitarnya, antara lain: (1) Mempermudah pergeseran pembangunan kegiatan industri yang terkonsentrasi di Pulau Jawa dapat didistribusikan ke Pulau Sumatera. (2) Membuat lahan pertanian di Sumatera yang lokasinya lebih jauh dari Jakarta dapat dikembangkan sebagai pemasok hasil tani untuk Pulau Jawa. (3) Mempermudah berkembangnya kegiatan ekonomi utama pada masing-masing kaki jembatan, seperti: resor pariwisata Tanjung Lesung (1.500 ha), kawasan sekitar Peti Kemas Bojonegara (500 ha) dan kawasan industri di Cilegon, serta kawasan industri dan pergudangan di Lampung. (4) Dengan adanya akses Jembatan Selat Sunda (JSS), pengaruh kedua pulau ini pada geoekonomi dunia akan sangat signifikan. Terutama terhadap sektor industri jasa pariwisata dan transportasi lintas ASEAN bahkan ASIA – Australia,

Dalam jangka panjang, pengembangan koridor ekonomi di Koridor Ekonomi Sumatera diarahkan pada empat kegiatan ekonomi utama pengembangan koridor yaitu: kelapa sawit, karet, batubara dan besi baja. Untuk mendukung pengembangan setiap kegiatan ekonomi utama tersebut diperlukan upaya peningkatan konektivitas, seperti pembangunan jalan raya dan jalur rel kereta api lintas timur, dari Banten Utara sampai Aceh di ujung barat-laut. Penguatan konektivitas di Koridor Ekonomi Sumatera juga dilakukan pada konektivitas intra koridor, konektivitas antar koridor, serta konektivitas internasional.

Dalam pengembangan Koridor Ekonomi Sumatera, pembangunan struktur ruang di provinsi diarahkan untuk memahami pola pergerakan dari kebun (karet dan sawit), dan tambang batubara sebagai kegiatan ekonomi utama menuju tempat pengolahan dan atau kawasan industri yang selanjutnya menuju pelabuhan. Maka di setiap provinsi, penentuan prioritas dan kualitas pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan dan jembatan, kereta api, pelabuhan dan bandar udara diarahkan untuk melayani angkutan barang untuk menunjang kegiatan ekonomi utama.

Di samping itu, mengingat Pulau Sumatera bagi Indonesia adalah gerbang di sisi barat, maka hub internasional berupa pelabuhan utama bagi pelayaran internasional perlu ditetapkan di pantai timur Pulau Sumatera. Terkait dengan hal ini maka pelabuhan Kuala Tanjung dinilai dapat memenuhi syarat sebagai Alternatif Pelabuhan Hub Internasional di sisi Barat Indonesia. Pelabuhan utama yang berfungsi sebagai hub internasional di sisi Barat menjadi penting untuk membuka dan memperbesar peluang pembangunan di luar Jawa dan pada saat yang sama mengurangi beban Pulau Jawa.

***

Walaupun dilihat dari persentase alokasi investasi Jawa masih mendominasi (32 persen), sementara Sumatera menempati urutan ketiga (18 persen) total investasi MP3EI, namun dampak dari pembangunan ala MP3EI ini akan sangat terasa di tahun 2025. Betapa tidak, pembangunan Jembatan Selat Sunda, yang difasilitasi dengan jalan rel di atasnya, ditambah dengan pembangunan jalan trans Sumatera sepanjang 1.580 km, dipastikan akan membangkitkan pereko nomian Sumatera secara signifikan. Tetapi sayang, MP3EI tidak mengakomodasi pembangunan jalan KA Trans Sumatera Railway, sehingga timbul kesan jalan KA hanya di atas JSS. Bagaimana kereta api di daratan Sumatera Рtidak terjawab di dalam MP3EI. 

Terlepas dari semua itu, melalui MP3EI diharapkan perekonomian Indonesia akan bangkit secara signifikan. Paling tidak PDB Indonesia yang pada tahun 2010 masih USD 700 Miliar dan pendapatan perkapita USD 3000, pada tahun 2025 PDB dapat meningkat antara USD 4 Р4,5 triliun, dengan pendapatan perkapita antara USD 14.250 РUS$ 15.500. Indonesia akan menjadi negara berpendapatan tinggi. Lebih diharapkan lagi, agar pada tahun 2045, PDB meningkat menjadi antara USD 15 Р17,5 Triliun, dan pendapatan perkapita antara US$ 44.500 РUS$ 49.000. Tentunya sepanjang semua pihak di negeri ini ikut berpartisipasi, karena partisipasi seluruh pemangku kepentingan merupakan kunci sukses implementasi MP3EI. Semoga !! 

Penulis adalah pemerhati masalah sosial, ekonomi, dan infrastruktur tinggal di Tebingtinggi

Tinggalkan Komentar

 

Copyright PEMKAB BATU BARA © 2014 Hak Cipta di Lindungi Pemerintah. Ini situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari BAPPEDA Kab. BATUBARA. Apabila terdapat data elektronik bassed yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.

Kembali ke atas