Kabupaten Batubara Menuju Pertanian yang Berjaya (Bag. 1) Reviewed by Momizat on . BATU BARA – Hikayat, wilayah Kabupaten Batubara dulu adalah kemukiman penduduk asal Minangkabau. Pembuktiannya dari beberapa nama kampung di Batu Bara, seperti BATU BARA – Hikayat, wilayah Kabupaten Batubara dulu adalah kemukiman penduduk asal Minangkabau. Pembuktiannya dari beberapa nama kampung di Batu Bara, seperti Rating: 0

Kabupaten Batubara Menuju Pertanian yang Berjaya (Bag. 1)

Kabupaten Batubara Menuju Pertanian yang Berjaya (Bag. 1)

BATU BARA – Hikayat, wilayah Kabupaten Batubara dulu adalah kemukiman penduduk asal Minangkabau. Pembuktiannya dari beberapa nama kampung di Batu Bara, seperti Tanah Datar, Lima Puluh, Tanjung Tiram, Pematang Panjang, Kampung Rawo, berasal dari nama daerah yang ada di Minangkabau. 

Menurut catatan Jhon Anderson, utusan Gubernur Inggris di Pulau Pinang dalam bukunya Mission to the Eastocoast of Sumatera yang ditulis ketika mengunjungi Batu Bara 20-24 Februari 1983, nama Batubara diambil dari sebuah batu di pedalaman yang pada malam hari mengeluarkan cahaya merah berapi. 

Sejak dahulu kala negeri ini telah menjalani kehidupan perdagangan dengan Negeri Malaka, dengan membawa hasil bumi berupa rotan, damar dan kemenyan. Juga barang kerajinan rakyat berupa tenunan kain, periuk tanah dan ikan asin. 

Dari sekilas cerita sejarah tersebut, bisa disimpulkan bahwa Batubara adalah daerah yang kaya, terutama hasil-hasil alamnya yang ada dalam bumi serta di atas bumi. Kaya dengan hasil pertanian, perkebunan, peternakan serta perikanan. Subsektor yang terakhir ini didukung dengan luas kawasan perairan yang menghasilkan aneka ragam ikan.

Kekayaan tersebut terus dikembangkan, sehingga Batubara pun menjadi daerah yang kemajuan pembangunannya diperhitungkan secara nasional. Baru-baru ini Presiden oko Widodo telah mencanangkan dimulainya pembangunan tujuh proyek strategis di Sumatera Utara, di antaranya ada yang dipusatkan di Pelabuhan Kuala Tanjung.

Keberadaan proyek nasional ini akan berdampak baik bagi kelangsungan pembangunan bidang lain, karena satu dengan lain akan saling terkait mulai dari hulu hingga hilir.

Luas wilayah Kabupaten Batubara 904,96 km2 (90.496 Ha) terbagi dalam tujuh kecamatan serta terdiri dari 93 desa dan 7 kelurahan, sebagian besar dimanfaatkan sebagai daerah pusat perkebunan, pertanian, serta perikanan dan peternakan.

Sektor pertanian dengan subsektornya merupakan salah satu prioritas pembangunan. Revitalisasi pertanian terus dilakukan pemerintah kabupaten untuk peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan agroindustri/agribisnis

Pertanian yang berjaya, merupakan bagian dari upaya pencapaian visi dan misi menuju Kabupaten Batubara yang sejahtera dan berjaya.

Di berbagai kesempatan, Bupati H OK Arya Zulkarnain SH MM menekankan bahwa Kabupaten Batu Bara sebagai daerah penghasil komoditas pertanian tanaman pangan dan perkebunan, akan tetap memperhatikan pembangunan sektor tersebut.

Pemkab Batubara menempatkan usaha tani sebagai salah satu elemen penting pembangunan daerah, karena sebagain besar penduduk menggantungkan hidupnya dari sektor itu.

Lahan pertanian tanaman pangan khususnya padi, tersebar di seluruh kecamatan. 

Kabupaten Batubara juga daerah produsen penting aneka hortikultura seperti jagung, ubi kayu dan cabai. Sementara kacang kedelai dan kacang tanah di sebagian wilayah.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah daerah – khususnya melalui Dinas Pertanian – untuk mengembangkan sektor ini, baik melalui program intensifikasi maupun ekstensifikasi.

Program intensifikasi di antaranya penerapan teknologi tepat guna, penggunaan bibit unggul, pemberantasan hama dan penyakit secara efektif dan efisien, serta meningkatkan peran petugas penyuluh lapangan (PPL).

Salah satu contoh program ini, adalah menertibkan pola tanam padi.

Kepala Dinas Pertanian Azizul Mukahar SP mengharapkan seluruh struktur pertanian baik PPL, Dinas Pengairan dan kelompok tani bersinergi mengembalikan pola tanam seperti semula. Sementara Dinas Pertanian menyediakan bibit padi unggul. 

Jika pola tanam tidak menentu, segala macam hama terus menyerang tanaman padi. Dari itu kita selaraskan pola tanam, jangan ada lagi tanaman lain selain padi di satu areal. Boleh menanam yang lain apabila musim tanam padi sudah selesai,î ujarnya.

Sementara ekstensifikasi, di antaranya dengan penyediaan sarana dan prasarana, utamanya penyediaan pupuk, sarana irigasi, jalan usaha tani serta pelayanan pascapanen.

Dalam hal penyediaan pupuk, baru-baru ini Dinas Perkebunan Sumatera Utara telah mengalokasikan dana pembangunan industri pupuk organik granural, yang pertama di Provinsi Sumatera Utara. Pabrik dibangun di Desa Pulau Sejuk, Kecamatan Lima Puluh. 

Diharapakan dengan pembangunan pabrik ini, masalah kelangkaan pupuk dapat teratasi. Terlebih dengan menggunakan pupuk organik, dapat membantu memperbaiki struktur dan tekstur tanah sehingga menjadikan tanah subur kembali, kata Bupati OK Arya. (Bersambung)

Sumber : agroplus.co.id

Tinggalkan Komentar

 

Copyright PEMKAB BATU BARA © 2014 Hak Cipta di Lindungi Pemerintah. Ini situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari BAPPEDA Kab. BATUBARA. Apabila terdapat data elektronik bassed yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.

Translate »
Kembali ke atas